BATAM, Radarsatu.com – Menjawab tantangan meningkatnya ancaman terhadap kebebasan pers, sejumlah organisasi profesi dan pengusaha media resmi mendeklarasikan pembentukan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Kepulauan Riau di Batam, Minggu (8/3/2026). Kehadiran komite ke-12 di Indonesia ini diproyeksikan menjadi “tameng” bagi insan pers dalam menghadapi berbagai bentuk intimidasi.
Lahirnya KKJ Kepri diinisiasi oleh kolaborasi lintas organisasi, mulai dari AJI Batam, AJI Tanjungpinang, PWI Kepri, PWI Batam, PFI Kepri, hingga IJTI Kepri. Dukungan juga datang dari organisasi perusahaan media seperti AMSI dan JMSI Kepri, serta Lembaga Studi Bantuan Hukum Masyarakat Kepulauan (LsBH) MK.
Ketua Umum AJI Indonesia, Nani Afrida, menegaskan bahwa pembentukan ini merupakan langkah krusial untuk memutus rantai impunitas terhadap pelaku kekerasan pers. Menurutnya, wilayah kepulauan seringkali memiliki titik buta di mana kasus kekerasan terhadap jurnalis luput dari deteksi.
“KKJ hadir untuk memproteksi rekan-rekan di lapangan. Jika terjadi kekerasan, kasusnya harus dibawa ke ruang publik dan diproses hukum secara tegas. Tidak boleh ada lagi pihak yang bersikap sewenang-wenang terhadap kerja jurnalistik,” tegas Nani saat menghadiri kegiatan di Komplek Raffless City, Batam Kota.
Peningkatan Kapasitas Keamanan Holistik
Sebelum deklarasi, para jurnalis dibekali pelatihan intensif selama dua hari (7–8 Maret) mengenai keamanan holistik. Materi yang diberikan mencakup mitigasi keamanan fisik, perlindungan digital, hingga aspek psikososial.
Koordinator KKJ Kepri terpilih, Muhamad Ishlahuddin, menyebut komite ini akan menjadi garda terdepan dalam melakukan advokasi. “Kami akan fokus pada mitigasi dan pendampingan terhadap persoalan intimidasi, pelarangan liputan, hingga kekerasan yang dialami jurnalis saat bertugas,” jelasnya.
Dukungan Program Jurnalisme Aman
Pembentukan KKJ Kepri merupakan hasil sinergi antara Yayasan Tifa dan AJI Indonesia, yang didukung oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda melalui Program Jurnalisme Aman.
Project Officer Yayasan Tifa, Arie Mega, menggarisbawahi bahwa keselamatan jurnalis berbanding lurus dengan kualitas demokrasi. Mengingat jurnalis di Kepri sering bersinggungan dengan isu sensitif seperti investasi, lingkungan, dan korupsi, ancaman yang dihadapi kini semakin kompleks, termasuk serangan siber.
“Pelatihan dan pembentukan KKJ ini adalah momentum penting untuk membangun mekanisme perlindungan yang komprehensif di tingkat daerah,” pungkas Arie.
