Dua Dapur SPPG di Karimun Ditutup Sementara, Kepsek SDN 013 Harap Program MBG Terus Dilanjutkan

Kepala Sekolah SD Negeri 013 Karimun, Riva Nurillah.F-Nov/Radarsatu.com

KARIMUN, Radarsatu.com – Kepala Sekolah SD Negeri 013 Karimun, Riva Nurillah berharap program makan bergizi gratis (MBG) bisa terus dilanjutkan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Menurutnya, program unggulan pemerintah tersebut memiliki dampak positif terhadap pemenuhan gizi anak maupun beban ekonomi para orang tua peserta didik.

“Saya sangat mendukung program MBG ini,” kata Riva, Selasa (30/9/2035).

Diketahui, sudah ada dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yakni Kelurahan Sungai Raya dan Sungai Lakam ditutup sementara, setelah 23 siswa diduga keracunan usai mengonsumsi MBG pada 25-26 September 2025 lalu.

Riva menyayangkan dinonaktifkan sementara dapur SPPG di Karimun. Ia menilai program MBG cukup membantu para orang tua peserta didik.

Sambungnya, selama adanya program MBG banyak orang tua siswa yang mengaku mengurangi porsi uang jajan anak mereka. Program MBG tidak hanya berdampak pada siswa, tapi juga bagi guru.

“SD Negeri 013 Karimun juga menjadi penerima program MBG. Siswa cukup antusias dan senang dengan beragam menu yang disajikan oleh dapur SPPG. Hingga saat ini belum pernah mendapat keluhan kesehatan dari para siswa,” ungkap Riva.

Meski demikian sebutnya, ada juga beberapa anak yang tidak ikut mengkonsumsi MBG dikarenakan faktor selera.

“Bagi anak-anak yang tidak mau, kami tidak paksa untuk ikut makan. Anak yang tidak mau diberi ke temannya yang suka dengan menunya,” tutur Riva.

Terkait dugaan keracunan MBG massal belum lama ini, Riva menuturkan, pada hari yang sama seluruh siswanya juga mendapat porsi dan menu serupa, karena masih dalam cakupan wilayah dapur SPPG yang sama.

“Saat kejadian itu menu kami sama. Anak-anak saya tanya baik dan aman saja,” katanya lagi.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau masih menunggu hasil uji laboratorium terkait sampel makanan bergizi gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab puluhan siswa mengalami gejala keracunan di dua sekolah tersebut.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Karimun, Soerjadi mengatakan, sampel makanan dari kedua sekolah telah dikirim dan diuji oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam.

Proses uji laboratorium biasanya memakan waktu tiga hari. Jika hasil awal menunjukkan negatif bakteri, maka kesimpulan bisa segera diketahui.

Namun, jika ditemukan indikasi positif bakteri, peneliti memerlukan waktu tambahan untuk memastikan jenis bakteri yang terkandung dalam makanan tersebut.

“Hasilnya sampai saat ini belum keluar. Kami masih menunggu. Informasi yang kami terima Rabu ini keluar hasilnya,” ujar Soerjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *