Rokok Kretek Jadi Penyebab Inflasi di Riau

Ilustrasi Rokok Kretek. (Foto: Pat/MCR)

PEKANBARU, RADARSATU.com — Rokok kretek menjadi salah satu penyebab inflasi di Provinsi Riau. Hal ini sebagaimana tercatat pada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau.

Pada Oktober 2023, gabungan 3 kota di Provinsi Riau mengalami inflasi year on year (Oktober 2022 – Oktober 2023) sebesar 2,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,88.

“Meski IHK Riau sebesar 115,88 secara year on year karena inflasi 2,65 persen, namun secara bulan ke bulan  atau m-to-m mengalami deflasi sebesar 0,03 persenpersen,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Riau, Fitri Hariyanti, Rabu (1/11/2023).

Ia menjelaskan bahwa dari tiga kota IHK di Provinsi Riau, semua kota mengalami inflasi y-on-y yaitu, Kota Pekanbaru sebesar 2,60 persen dan secara m-to-m mengalami inflasi sebesar 0,03 persen.

Lalu, Kota Dumai sebesar 3,07 persen, namun secara m-to-m mengalami deflasi sebesar 0,30 persen dan Kota Tembilahan sebesar 2,04 persen dan secara m-to-m mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.

Ia membeberkan bahwa inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,00 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 3,40 persen.

Lalu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,89 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,06 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,27 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,20 persen.

Selanjutnya, kelompok pendidikan sebesar 1,10 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,66 persen dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,38 persen.

Sementara itu, dua kelompok lainnya mengalami deflasi y-on-y, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,58 persen dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,23 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Oktober 2023, antara lain beras, rokok kretek filter, mobil, kontrak rumah, emas perhiasan, sewa rumah, minyak goreng, kentang, angkutan udara, dan tomat,” jelasnya.

Sementara secara m-to-m komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi pada Oktober 2023, antara lain cabai merah, telur ayam ras, tomat, kentang, dan ikan nila.

Di sisi lain komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m, antara lain angkutan udara, beras, bensin, emas perhiasan, dan bawang merah.

Dari 24 kota di Sumatera yang menghitung IHK, seluruh kota mengalami inflasi y-on-y, dengan inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 5,43 persen, diikuti oleh Kota Sibolga sebesar 4,33 persen dan Kota Padangsidimpuan sebesar 3,10 persen.

Sementara itu inflasi y-on-y terendah terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 1,65 persen.

“Berdasarkan urutan inflasi y-on-y kota-kota di Sumatera, kota-kota di Provinsi Riau berturut-turut yaitu Dumai urutan ke-4, Pekanbaru urutan ke-12 dan Tembilahan urutan ke-22,” tukasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *