BINTAN, Radarsatu.com – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bergerak cepat membentengi generasi muda dari ancaman radikalisme digital. Langkah ini diwujudkan melalui Program Kesbangpol Masuk Sekolah (KEMAS) yang diinisiasi oleh Badan Kesbangpol Kepri di halaman Gedung Nasional, Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, pada Senin (25/5) pagi.
Acara yang menyasar 1.000 pelajar kelas X dan XI SMA Negeri 1 Bintan Utara ini dihadiri langsung oleh Ketua FKPT Kepri, Dr. Lamidi, MM, serta Sekretaris FKPT yang juga menjabat Kepala Dispora Provinsi Kepri, Dr. Darson.
Radikalisme dan Terorisme Musuh Nyata Pancasila
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Radikalisme dan Terorisme Bertentangan dengan Pancasila”, Dr. Lamidi menegaskan bahwa kedua paham tersebut merupakan ancaman serius bagi ideologi bangsa. Menurutnya, radikalisme sering kali tumbuh dari sikap eksklusif yang merasa kelompoknya paling benar, hingga akhirnya berujung pada aksi terorisme yang menghalalkan kekerasan.
“Pancasila menjunjung tinggi kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Radikalisme dan terorisme justru merusak nilai-nilai dasar tersebut,” ujar Lamidi di hadapan ribuan siswa.
Lamidi kemudian membedah benturan nyata kedua paham ini dengan lima sila Pancasila:
Sila 1: Menyalahgunakan agama untuk kekerasan, mencederai nilai toleransi.
Sila 2: Merusak kemanusiaan dan peradaban dengan membunuh orang tak bersalah.
Sila 3: Memecah belah bangsa lewat penyebaran kebencian SARA.
Sila 4: Menolak jalur dialog dan musyawarah demi memaksakan kehendak.
Sila 5: Menghancurkan keadilan dengan menciptakan trauma dan kerusakan.
Waspada Perekrutan di Balik Layar Digital
Lebih lanjut, FKPT Kepri mengingatkan bahwa medan tempur penyebaran paham radikal kini telah bergeser sepenuhnya ke ruang digital. Terlebih lagi, sekitar 110 juta anak Indonesia (48% di bawah usia 18 tahun) merupakan pengguna aktif internet.
Ada tiga pola ancaman siber yang wajib diwaspadai oleh para pelajar:
Digital Grooming & Game Online: Sistem pendekatan dan perekrutan terselubung melalui ruang obrolan gim dan media sosial.
Self-Radicalization: Fenomena di mana seseorang terpapar paham ekstrem secara mandiri akibat terus-menerus mengonsumsi konten radikal di dunia maya.
Lone Wolf: Pergerakan terorisme modern yang lebih cair, bergerak sendiri tanpa kelompok resmi, sehingga lebih sulit dideteksi.
Perkuat Literasi Digital dan Ideologi
Di lokasi yang sama, Sekretaris FKPT Kepri, Dr. Darson, menegaskan komitmennya untuk terus mengintensifkan edukasi anti-radikalisme ke sekolah-sekolah di wilayah Kepri melalui sinergi lintas sektor.
“Kami fokus memberikan pembekalan terkait penguatan wawasan kebangsaan, peningkatan literasi digital, serta pemahaman bahaya pencucian otak di era modern ini,” tegas Darson.
Melalui program KEMAS ini, diharapkan para pelajar di Kabupaten Bintan memiliki benteng ideologi yang kokoh agar tidak mudah terpengaruh oleh infiltrasi paham radikal di internet.*
