Gandeng Organisasi Sekolah Pasca-Agustus, Pemprov Riau Rancang Sosialisasi Pancasila Interaktif

Gandeng Organisasi Sekolah Pasca-Agustus, Pemprov Riau Rancang Sosialisasi Pancasila Interaktif.F-Istimewa

PEKANBARU, Radarsatu.com — Internalisasi nilai-nilai ideologi bangsa kini tidak lagi dikemas dalam indoktrinasi kaku yang monoton, melainkan mulai ditransformasikan lewat pendekatan populer yang adaptif terhadap perkembangan psikologis remaja.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) gencar merancang formula taktis guna membumikan butir-butir Pancasila agar lebih mudah meresap ke dalam gaya hidup Generasi Z dan Generasi Alpha.

Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Riau, Boby Rachmat, menegaskan pada Minggu, 31 Mei 2026, bahwa tanggung jawab dalam merawat kebhinekaan di Bumi Lancang Kuning tidak bisa hanya bertumpu pada pundak aparatur sipil negara semata.

Seluruh klaster kemasyarakatan, mulai dari lingkungan terkecil keluarga, institusi sekolah, hingga komunitas hobi dan pemuda, memegang andil krusial sebagai garda terdepan dalam menyemaikan benih toleransi dan rasa cinta tanah air sejak dini.

Guna meluaskan daya jangkau sosialisasi tersebut, Kesbangpol Riau menggandeng kemitraan strategis dengan organisasi kepemudaan yang berada di bawah naungannya, salah satunya adalah Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Provinsi Riau.

Pola kolaborasi antarsebaya (peer-to-peer) ini dinilai jauh lebih efektif karena materi kebangsaan disampaikan langsung oleh figur-figur muda yang memiliki kedekatan emosional serta memahami dinamika tren komunikasi pelajar masa kini.

Ketua DPPI Riau, Josua Sihite, mengungkapkan bahwa potret kerukunan di Provinsi Riau sejatinya sudah berada pada level yang sangat baik dan toleran.

Realitas ini tecermin dari kekompakan para peserta diklat Paskibraka Riau yang datang dari latar belakang suku dan adat yang berbeda dari 12 kabupaten dan kota, namun justru mampu meleburkan ego sektoral untuk saling peduli dan bertukar informasi keunikan daerah asal selama masa karantina di Pekanbaru.

Eksistensi perbedaan tersebut dinilai bukan sebagai pemisah, melainkan perekat yang memperkaya wawasan kebangsaan para calon pemimpin masa depan.

Menatap program jangka panjang, DPPI Riau telah menyusun cetak biru (blue print) gerakan edukasi kebangsaan yang lebih inklusif tanpa memandang latar belakang suku maupun keyakinan agama.

Langkah konkret pembumian Pancasila ini akan diekspansifkan ke sekolah-sekolah menengah atas pasca-peringatan HUT Kemerdekaan RI pada bulan Agustus mendatang, dengan mengaktivasi jaringan organisasi Paskibra sekolah sebagai motor penggerak utamanya.

Target fundamental dari gerakan ini adalah mendekonstruksi pemahaman klasik siswa yang selama ini kerap menganggap Pancasila sebatas teks hafalan teoretis demi mengejar nilai akademik di lembar ujian.

Melalui program bedah Pancasila interaktif yang tengah dimatangkan, Pemprov Riau bersama DPPI berkomitmen menyajikan metode simulasi dan diskusi yang santai namun berbobot.

Siasat edukasi yang dikemas secara praktis dan disesuaikan dengan kultur digital Gen Z ini diharapkan mampu mengubah cara pandang generasi muda, sehingga nilai-nilai luhur Pancasila tidak lagi sekadar dihafal secara kognitif, melainkan diimplementasikan secara sadar dan sukarela dalam perilaku toleransi sosial kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *