BATAM, Radarsatu.com – Fenomena pergeseran tren penyakit kronis berbahaya yang kini mulai masif menyerang generasi muda memicu alarm kewaspadaan di jajaran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Lonjakan tajam kasus diabetes melitus dan kanker pada usia anak-anak kini menjadi lokus perhatian utama pemerintah daerah.
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Provinsi Kepri, Dewi Kumalasari Ansar, memaparkan data resmi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2023 yang menunjukkan grafik kenaikan prevalensi diabetes anak secara signifikan. Berdasarkan struktur demografinya, kasus terbanyak justru mengintai kelompok usia produktif sekolah 10–14 tahun dengan persentase mencapai 46 persen, serta didominasi oleh anak perempuan sebesar 59,3 persen.
“Mayoritas temuan klinis di lapangan merupakan kasus diabetes tipe 1. Namun, yang patut kita garis bawahi bersama adalah faktor risiko obesitas atau kelebihan berat badan pada anak saat ini menjadi pemicu sangat kuat terhadap lahirnya diabetes tipe 2,” terang Dewi Kumalasari di sela agenda pengukuhan Pengurus YKI Kota Batam periode 2026–2031 di Wyndham Panbil, Batam, Sabtu (16/5/2026).
Istri Gubernur Kepri ini menegaskan, potret klinis tersebut wajib menjadi catatan merah dan perhatian serius bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya para orang tua. Penanganan preventif harus segera diintervensi sejak dini, terutama melalui pengawasan ketat terhadap asupan gizi seimbang, pengendalian angka obesitas anak, serta penerapan pola makan sehat di lingkungan keluarga.
Fasilitas Terbatas, Hanya 20 Persen Kasus Kanker Anak Terdeteksi
Selain ancaman diabetes, Dewi Kumalasari juga menguliti data memprihatinkan terkait eskalasi kasus kanker anak di tanah air. Merujuk pada kompilasi data IDAI tahun 2020, diperkirakan muncul sekitar 11.156 kasus baru kanker anak setiap tahunnya di Indonesia. Rapor penyakit mematikan ini didominasi oleh kanker darah atau leukemia, disusul tumor kelenjar getah bening (limfoma), dan kanker otak.
Ironisnya, dari perkiraan belasan ribu kasus baru tersebut, hanya sekitar 20 persen kasus yang berhasil terdeteksi secara medis dan mendapatkan penanganan onkologi secara layak.
Rendahnya angka deteksi ini dipicu oleh dua faktor krusial, yakni masih terbatasnya fasilitas penunjang medis spesialis di sejumlah daerah serta masih rendahnya kesadaran (awareness) masyarakat umum untuk mengenali gejala awal kanker pada anak.
Apresiasi Gerakan Edukasi IDAI Kepri
Guna memotong mata rantai keterlambatan penanganan tersebut, Dewi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran IDAI Kepri yang bergerak taktis menggelar seminar edukasi medis berskala besar. Langkah jemput bola ini dinilai sebagai sokongan konkret terhadap program prioritas sektor kesehatan pemerintah dalam menekan angka mortalitas akibat diabetes dan kanker anak.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi mendalam kepada IDAI Kepri, seluruh dokter spesialis anak, serta tenaga kesehatan di lapangan. Dedikasi mereka tidak sekadar memberikan tindakan pengobatan kuratif, tetapi juga menghadirkan secercah harapan bagi anak-anak dan menyalurkan energi kekuatan bagi para orang tua yang sedang melewati masa-masa sulit ini,” pungkasnya.



