TANJUNGPINANG, Radarsatu.com – Kota Tanjungpinang mencatatkan tren pertumbuhan positif pada sektor pariwisata mancanegara sepanjang triwulan pertama tahun 2026. Di saat sejumlah daerah tetangga mengalami fluktuasi, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Ibu Kota Provinsi Kepri ini justru konsisten merangkak naik setiap bulannya.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kepri, kunjungan wisman pada Januari tercatat sebanyak 4.030 orang, meningkat menjadi 5.047 pada Februari, dan mencapai 5.622 kunjungan pada Maret. Mayoritas wisman berasal dari Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, dan Korea Selatan.
Tantangan Kreativitas dan Konektivitas
Ketua ASITA Tanjungpinang–Bintan, Sapril Sembiring, menyambut baik tren positif tersebut, namun ia mengingatkan agar Pemerintah Kota tidak cepat berpuas diri. Menurutnya, pertumbuhan ini harus menjadi pemicu untuk meningkatkan kreativitas dalam membangun daya tarik wisata baru.
Salah satu hambatan krusial yang disoroti Sapril adalah jadwal operasional kapal feri, khususnya rute Malaysia. Jadwal kedatangan pada sore hari dan keberangkatan pada pagi hari dinilai membatasi ruang gerak wisman, terutama bagi mereka yang mengambil paket tur harian.
“Kondisi ini membuat wisman tidak punya banyak pilihan aktivitas. Ditambah lagi, kita belum mampu menyuguhkan atraksi malam hari yang kuat. Pemerintah perlu duduk bersama operator kapal dan otoritas pelabuhan untuk menyiasati hal ini,” ungkap Sapril, Rabu (6/5/2026).
Optimalisasi Destinasi Alternatif
ASITA juga mendorong pemerintah untuk tidak hanya bertumpu pada Pulau Penyengat. Kawasan Tepi Laut dan Gedung Gonggong dinilai memiliki potensi besar jika dikelola secara profesional dengan jadwal atraksi yang kontinyu.
“Jika ada atraksi terjadwal, kami dari biro perjalanan bisa menjual paket wisata yang lebih menarik. Perlu kolaborasi erat antara OPD terkait dengan para stakeholder pariwisata,” tambahnya.
Langkah Strategis Pemko Tanjungpinang
Merespons masukan tersebut, Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, menyatakan bahwa pemerintah telah mulai mengidentifikasi hambatan pengembangan sektor wisata. Bekerja sama dengan Bappenas RI, Pemko menggelar forum diskusi internal yang melibatkan Bapelitbang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, hingga camat dan lurah.
Diskusi lapangan tersebut dilaksanakan langsung di Pulau Penyengat pada Kamis (7/5/2026) untuk memvalidasi peluang dan tantangan secara real-time.
“Kami ingin memetakan potensi dan hambatan secara detail sebelum melangkah lebih jauh bersama pelaku usaha wisata. Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi daerah, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci,” tegas Zulhidayat.



