PEKANBARU, Radarsatu.com – Pola pergerakan penduduk di Provinsi Riau mengalami pergeseran signifikan dalam lima tahun terakhir. Data terbaru dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Riau menunjukkan bahwa daya tarik wilayah kini bergeser dari pusat kota ke daerah penyangga, dengan Kabupaten Kampar muncul sebagai tujuan utama.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa dinamika ini terlihat dari dua indikator utama: migrasi seumur hidup (berdasarkan tempat lahir) dan migrasi risen (perpindahan dalam lima tahun terakhir).
Daya Tarik Jangka Panjang: Siak dan Kampar Memimpin
Secara historis atau migrasi seumur hidup, Kabupaten Siak mencatatkan persentase migrasi masuk tertinggi di Riau, yakni mencapai 44,01 persen. Posisi ini ditempel ketat oleh Kabupaten Kampar sebesar 43,66 persen dan Kota Pekanbaru sebesar 42,02 persen.
“Angka ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, Siak dan Kampar memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai tempat tinggal menetap bagi warga dari luar daerah maupun antar kabupaten/kota,” ujar Asep, Rabu (6/5/2026).
Tren 5 Tahun Terakhir: Kampar Melejit, Pekanbaru “Minus”
Fenomena menarik justru terlihat pada data migrasi risen (perpindahan periode 2020-2025). Kabupaten Kampar mengukuhkan posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru dengan migrasi masuk risen sebesar 9,44 persen, sedangkan warga yang keluar hanya 2,12 persen.
Sebaliknya, Kota Pekanbaru justru mencatatkan tren negatif. Ibu kota Provinsi Riau ini mengalami arus keluar yang sangat tinggi, mencapai 12,69 persen, jauh melampaui arus masuk yang hanya 4,28 persen.
“Pekanbaru mencatatkan migrasi risen neto terendah, yaitu minus 8,41 persen. Artinya, dalam lima tahun terakhir, lebih banyak penduduk yang memutuskan pindah keluar dari Pekanbaru dibandingkan yang masuk,” jelas Asep.
Daerah Pelepas: Meranti dan Inhil Masih Tertinggi
Di sisi lain, Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir (Inhil) masih menjadi daerah dengan daya tarik migrasi masuk terendah. Kepulauan Meranti hanya mencatat migrasi masuk seumur hidup sebesar 7,62 persen, namun memiliki tingkat migrasi keluar yang cukup tinggi, yakni 21,38 persen. Hal serupa terjadi di Inhil dengan tingkat migrasi masuk yang hanya berkisar 9,80 persen.
Sinyal Pembangunan bagi Pemerintah Daerah
Menanggapi perubahan pola ini, Asep Riyadi mengingatkan pemerintah daerah untuk segera melakukan penyesuaian kebijakan pembangunan.
“Wilayah dengan arus masuk tinggi seperti Kampar perlu memperkuat infrastruktur dan layanan dasar. Sementara daerah dengan arus keluar tinggi perlu mengevaluasi daya tarik ekonomi agar tidak terus kehilangan sumber daya manusia potensial,” pungkasnya.
Data Poin Strategis (Tabel Migrasi Risen Neto)
| Kabupaten/Kota | Migrasi Masuk (%) | Migrasi Keluar (%) | Net Migrasi (%) |
| Kampar | 9,44 | 2,12 | + 7,33 (Tertinggi) |
| Siak | 4,49 | 2,25 | + 2,24 |
| Pekanbaru | 4,28 | 12,69 | – 8,41 (Terendah) |



