TANJUNGPINANG, Radarsatu.com – Kawasan historis Senggarang kembali menjadi pusat perhatian dengan digelarnya peringatan 311 tahun Nguan Thian Sian Tih di Klenteng Senggarang, Tanjungpinang. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Dharma Sasana Senggarang ini berlangsung meriah selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 April 2026.
Sejak malam pembukaan pada Sabtu (18/4/2026), lokasi klenteng yang didominasi ornamen merah tersebut dipadati oleh masyarakat lintas kalangan yang antusias menyaksikan rangkaian tradisi budaya dan hiburan rakyat.
Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, yang hadir dalam acara tersebut menekankan bahwa Klenteng Senggarang merupakan saksi bisu perjalanan sejarah yang luar biasa.
Ia menyoroti fakta unik bahwa usia klenteng tersebut telah melampaui tiga abad, jauh lebih tua dibandingkan usia Kota Tanjungpinang yang kini menginjak 242 tahun. Menurut Lis, keberadaan masyarakat Tionghoa di Senggarang telah menjadi pilar penting yang mewarnai perkembangan sosial dan ekonomi kota sejak ratusan tahun silam.
Ketua Panitia Pelaksana, Rudi Chua, menjelaskan bahwa angka 311 tahun bukan sekadar perayaan rutin, melainkan bukti otentik dari jejak kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara, khususnya di wilayah Kepulauan Riau.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau ini menyebutkan bahwa catatan sejarah di Senggarang merupakan salah satu yang tertua di Asia Tenggara. Ia mengapresiasi dukungan semua pihak yang terus menjaga tradisi ini tetap hidup sebagai identitas sejarah yang berharga.
Sejalan dengan semangat pelestarian tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengajak seluruh elemen warga untuk terus merawat harmoni di tengah keberagaman. Hasan menilai akulturasi budaya yang sangat erat antara masyarakat Melayu dan Tionghoa di Tanjungpinang merupakan modal sosial yang kuat.
Toleransi yang telah mendarah daging ini diharapkan menjadi kunci sukses dalam mendukung berbagai program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah kota maupun provinsi.
Peringatan ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan terhadap tradisi leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi dan budaya yang memperkuat posisi Tanjungpinang sebagai kota yang inklusif.
Dengan semangat kebersamaan dan kekompakan, festival tahunan di Senggarang ini diharapkan terus menjadi simbol persatuan yang mampu menggerakkan potensi pariwisata sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama di Bumi Segantang Lada.



