Amsakar Achmad: Defisit Rp5 Triliun, Pembangunan Batam Wajib Skala Prioritas

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Musrenbang tingkat Kecamatan Batuampar di Sentosa Seafood Batam, Taman Pasifik Lot 1, Kamis (29/1/2026). F-Diskominfo Batam

BATAM, Radarsatu.com – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menetapkan skala prioritas dalam usulan pembangunan. Hal ini menyusul adanya selisih yang cukup besar antara kebutuhan pembangunan daerah dengan kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam.

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kecamatan Batuampar di Sentosa Seafood, Kamis (29/1/2026), Amsakar memaparkan bahwa total kebutuhan pembangunan Batam mencapai Rp9 triliun. Sementara itu, kemampuan APBD saat ini hanya berada di angka Rp4,29 triliun.

“Ada selisih sekitar Rp5 triliun yang harus kita kelola secara bijak. Oleh karena itu, usulan yang diajukan masyarakat harus benar-benar selektif, mengutamakan urgensi, dan memberikan manfaat luas bagi publik,” tegas Amsakar.

Prestasi Ekonomi Batam Tahun 2025 Meski anggaran terbatas, Amsakar memaparkan capaian ekonomi Batam yang sangat positif. Pertumbuhan ekonomi Batam tahun 2025 tercatat mencapai 6,6 persen, bahkan diprediksi menembus 7 persen pada triwulan III 2026.

Indikator makro lainnya juga menunjukkan tren membanggakan:

  • Investasi: Mencapai Rp69,3 triliun (115,5% dari target).

  • Kemiskinan: Turun dari 4,85 persen (2024) menjadi 3,81 persen (2025).

  • IPM: Sebesar 83,8 (tertinggi di Kepulauan Riau).

  • Pengangguran: Menurun ke angka 7,57 persen.

“Capaian ini adalah buah dari kolaborasi. Bahkan dunia usaha turut menyumbang sekitar Rp150 miliar untuk pembangunan sekolah rakyat. Sinergi inilah modal besar kita,” tambahnya.

Solusi Sampah, Air Bersih, dan Banjir Di balik prestasi ekonomi, Amsakar mengakui Pemko Batam masih menghadapi tantangan serius pada sektor pelayanan dasar, terutama sampah dan air bersih. Terkait kemacetan armada sampah di TPA Punggur, ia menjelaskan adanya kendala teknis akibat penutupan Zona A oleh kementerian.

Sebagai langkah cepat, Pemko Batam telah menggunakan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk normalisasi Zona B. Selain itu, sektor swasta turut membantu pengerasan jalan menuju TPA senilai Rp3–4 miliar guna memperlancar akses.

“Pengelolaan sampah tidak bisa instan. Antrean kendaraan sempat mencapai empat jam karena tumpukan sampah setinggi 20 meter. Namun, berkat gotong royong, kondisi ini mulai terurai,” jelas Amsakar.

Untuk sektor lainnya, Pemko Batam kini fokus memperbaiki layanan air bersih di 18 kawasan “stres air” (daerah sulit air) serta melakukan normalisasi drainase dan pembangunan pompa air untuk meminimalisir titik banjir di perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *