Pagi itu laut di perairan Tanjung Moco tampak beriak. Angin utara berembus cukup kencang, namun cuaca cerah memberi ruang bagi aktivitas nelayan untuk tetap bergerak. Sebuah boat fiber bermesin tempel 15 Paard Kracht (PK) perlahan merapat ke bibir pantai. Di kemudinya, Indra (22) mengarahkan laju kapal yang sarat muatan hasil laut—bilis kering dan tamban segar—yang terbungkus rapi.
Boat berdaya angkut maksimal 500 kilogram itu tak bersandar di dermaga beton yang menjorok ke laut, melainkan langsung ke timbunan tanah di tepi pantai. Di titik inilah, sejumlah pompong dan boat dari Pulau Dendun kerap berlabuh untuk bongkar muat. Tempat ini telah menjadi simpul kecil aktivitas ekonomi nelayan lintas pulau.
Tak jauh dari tambatan kapal, berdiri sebuah bangunan non permanen milik Rahman (30). Di sana ia membuka kedai kopi sederhana sekaligus jasa penitipan barang dan kendaraan. Bersama istri dan anak perempuannya, Rahman menggantungkan hidup dari lalu lalang nelayan yang singgah.
“Motor yang parkir menginap di sini kebanyakan milik warga Dendun. Biayanya Rp10 ribu per malam,” ujarnya.
Rahman, warga Dompak Seberang, mengaku membebaskan nelayan bersandar di lahan miliknya tanpa pungutan. Sebagai gantinya, kedainya menjadi tempat transit—sekadar rehat, menyeruput kopi, atau menunggu muatan dibawa ke darat.

Salah satunya Indra. Usai memindahkan hasil laut ke angkutan darat, pemuda itu duduk santai di kedai Rahman. Hampir setiap hari ia pulang pergi dari Pulau Dendun membawa hasil tangkapan nelayan—bilis, tamban, sotong kering, hingga udang dan ketam segar.
“Mayoritas warga Pulau Dendun itu nelayan. Alat tangkapnya lengkap, dari jaring pukat, bubu, sampai pancing,” kata Indra.
Pulau Dendun merupakan desa di Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, dengan jumlah penduduk sekitar 1.055 jiwa atau 306 kepala keluarga. Meski secara administratif masuk wilayah Bintan, pulau ini justru lebih dekat ke Tanjungpinang melalui jalur laut Tanjung Moco. Dengan boat 15 PK, jarak itu ditempuh sekitar 20–25 menit—lebih singkat dibanding jalur darat dari pelantar lain.
Bagi Indra, rutinitas ini bukan sekadar pekerjaan. Sejak sang ayah meninggal sekitar 10 bulan lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga.
“Ibu masih ada. Kakak sudah menikah, adik perempuan masih SMA di Mantang,” tuturnya.
Pesan sang ayah masih ia pegang: jangan menggantungkan hidup pada satu pekerjaan. Selain mengangkut dan membeli hasil laut nelayan, Indra juga mengelola keramba apung untuk pembesaran ikan kerapu.
Di Pulau Dendun, sekitar 30 nelayan menggunakan jaring pukat. Setiap kapal rata-rata melibatkan minimal 10 anak buah kapal (ABK) dengan dua unit pompong. Hasil tangkapan tak pernah pasti—bergantung musim dan cuaca—namun bilis menjadi komoditas utama. Setelah dikeringkan menggunakan oven, bilis itu dititipkan kepada Indra untuk dijual ke penampung besar di Tanjungpinang.
Salah satu penampung itu adalah Heng Lee (80).
Modal Kepercayaan untuk Nelayan
Nama Heng Lee dikenal luas di kalangan nelayan pesisir Kepulauan Riau. Warga Pelantar III, Tanjungpinang Kota ini telah puluhan tahun menjadi penampung hasil laut kering, termasuk bilis, tamban, udang, dan sotong.
Di rumah kayu bertingkat miliknya, deretan lemari pendingin besar menyimpan hasil laut agar kualitas tetap terjaga. Tak jauh dari sana, sebuah ruko dua pintu menjadi pusat transaksi jual beli ikan kering. Aktivitas harian lebih banyak dijalankan anaknya dan para karyawan, sementara Heng Lee memilih mengawasi dari kejauhan—sering kali sambil ngopi di kedai seberang.
Ia merintis usaha ini sejak usia muda. Sekitar umur 28 tahun, Heng Lee merantau dari Pulau Rempang, Batam, ke Tanjungpinang.
“Dulu kondisi orang tua susah. Saya harus merantau,” kenangnya.
Berbekal pengalaman sebagai nelayan, ia memahami betul kesulitan di laut. Karena itu, Heng Lee tak sekadar membeli hasil tangkapan, tetapi juga membantu nelayan dengan modal kerja—termasuk pembelian alat tangkap bernilai puluhan juta rupiah.
Sistemnya sederhana: berbasis kepercayaan. Nelayan menjual hasil tangkapan dengan harga pasar, sebagian hasil penjualan digunakan untuk mencicil modal.
“Tidak ada bunga seperti bank. Yang penting saling terbuka dan saling percaya,” ujarnya.
Nelayan yang dibantunya tak hanya dari Pulau Dendun, tetapi juga dari pesisir Bintan, Kijang, Pangkil, Karas, Senayang, Barelang, hingga Natuna.
Heng Lee menegaskan, ia tak ingin memonopoli harga. Jika ada penampung lain yang berani membeli lebih tinggi, nelayan dipersilakan menjual ke tempat lain.
“Kita saling jaga saja. Usaha ini soal kepercayaan,” katanya.
Risiko usaha tetap ada. Cuaca buruk bisa menghentikan pasokan, sementara penyimpanan terlalu lama juga berisiko menurunkan kualitas ikan. Namun bilis Tanjungpinang, yang dikenal lebih unggul, tetap memiliki pasar kuat.
“Riau daratan tahu kualitas bilis kita. Ke Guntung, Inhil, biasanya kirim sebulan dua kali pakai kapal kargo,” jelasnya.
Dari Pelantar ke FTZ Dompak
Konsistensi puluhan tahun itu membuahkan hasil. Heng Lee kini menginvestasikan dana sekitar Rp 5 Miliar untuk membangun gudang baru berukuran 18 x 24 meter di lahan seluas kurang lebih 2 hektar di kawasan FTZ Dompak, Jalan Kelam Pagi.
Pemindahan gudang dari Pelantar III akan dilakukan bertahap. Selain alasan keamanan—lokasi lama rawan kebakaran—lokasi baru dinilai lebih strategis.
“Lebih dekat ke Pulau Dendun. Jarak transportasi darat bisa dipangkas,” ujarnya.

Di luar aktivitas bisnis, Heng Lee juga dikenal memiliki kepedulian sosial. Meski beragama Konghucu, ia kerap membantu kegiatan masyarakat tanpa melihat perbedaan keyakinan—mulai dari pembangunan masjid di pesisir Dompak dan Dendun, hingga mendukung kegiatan olahraga seperti turnamen sepak bola.
“Kalau untuk masyarakat, saya siap bantu,” katanya singkat.
Baru-baru ini Heng Lee bersama mitra kerjanya Asong, Warga Pulau Dendun yang mualaf dan menikah dengan Warga lokal, berkolaborasi mendonasikan dana mereka masing-masing Rp 10 Juta, untuk membeli lahan yang rencananya akan dibangun SMP Negeri untuk anak-anak pulau tersebut.
Apa yang dilakukan Heng Lee menunjukkan bahwa sektor riil berbasis kepercayaan masih hidup. Dengan memberdayakan nelayan lokal, roda ekonomi kerakyatan terus bergerak—pelan tapi pasti—di pesisir Tanjungpinang.
Penulis: Oktarian



