TANJUNGPINANG, Radarsatu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri, mulai melaksanakan skrining Tuberkulosis (TBC) secara insentif. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menghadirkan layanan pemeriksaan dengan metode X-ray Rontgen keliling di sejumlah titik.
Kepala Dinkes Kota Tanjungpinang, Rustam, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga sudah berjalan di Kota Tanjungpinang kurang lebih dua minggu. Salah satu lokasi pelaksanaan pemeriksaan adalah di SPPG Batu 10, dengan jumlah peserta skrining mencapai sekitar 450 orang.
“Program ini merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM), di mana masyarakat yang terduga atau memiliki risiko tinggi TBC akan dilakukan pemeriksaan,” kata Rustam, Kamis (30/10) Siang.
TBC menjadi penyakit berbahaya dengan cara penularan yang sama seperti Covid-19, bahkan Indonesia menduduki peringkat kedua dunia setelah India dalam kasus TBC.
“Kelompok yang masuk kategori risiko tinggi yakni perokok, penderita diabetes, orang dengan HIV, dan mereka yang tinggal serumah dengan penderita TBC,” jelasnya.
Lebih lanjut kata Rustam, bahwa setiap pasien yang terkonfirmasi mengidap TBC akan mendapatkan pengobatan, sedangkan mereka yang hasilnya negatif akan diberikan edukasi dan langka pencegahan.
Meski belum menyebutkan rincian pasti jumlah temuan kasus baru, Dinas Kesehatan menilai angka temuan sementara ini masih relatif rendah.
Melalui program ini, Rustam mengimbau masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko, untuk memanfaatkan layanan skrining gratis tersebut.
“Kami mengajak masyarakat Tanjungpinang yang merasa memiliki risiko untuk memeriksakan diri. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui layanan mobile X-ray maupun Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersedia di Puskesmas terdekat,” tambahnya.
Sementara itu, sebanyak 600 ribu warga Kepri ditargetkan akan melakukan skrining TBC oleh Dinas Kesehatan.
Kepala Dinkes Kepri, Mohammad Bisri menyampaikan, bahwa skrining TBC ini dilakukan, mengingat temuan kasus TBC di Kepri dinilai masih jauh dari target.
“Kami mencatat ada sebanyak 4.700 kasus TBC yang terdeteksi di Provinsi Kepri, sedangkan perkiraan kami penderita mencapai 13.700 orang. Hal ini jelas bahwa banyak penderita yang belum terdeteksi,” ungkapnya, baru-baru ini.
Ansar Ahmad juga turut menyoroti posisi Indonesia yang menduduki peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, kasus ini menjadi fokus utama mengingat penyakit ini dapat menular melalui udara sehingga patut diwaspadai.
Bahkan tambahnya, TBC telah memakan korban meninggal lebih dari 1.3 juta jiwa setiap tahunnya.
“Target kita minimal 600 ribu sampel untuk skrining TBC se-Kepri, ini penting untuk mendapatkan gambaran nyata jumlah kasus TBC di Kepri,” pungkasnya.*



