Pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat, Peneguhan Identitas Nasional dari Tanah Bahasa Indonesia

TANJUNGPINANG, Radarsatu.com – Pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, menjadi salah satu gagasan monumental yang melampaui dimensi fisik semata. Lebih dari sekadar bangunan, monumen ini diharapkan menjadi simbol peradaban dan kebanggaan nasional yang meneguhkan akar sejarah lahirnya Bahasa Indonesia yang tumbuh dari rahim Bahasa Melayu di Pulau Penyengat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepulauan Riau Rodi Yantari menyampaikan, gagasan pembangunan Monumen Bahasa merupakan bentuk penghargaan terhadap jejak sejarah Pulau Penyengat sebagai pusat lahirnya bahasa pemersatu bangsa.

“Bahasa Indonesia tidak lahir di ruang kosong. Ia berakar dari Bahasa Melayu Tinggi yang disistematisasi oleh ulama dan pujangga besar asal Penyengat, Raja Ali Haji, seorang Pahlawan Nasional yang telah meletakkan dasar linguistik dan tata bahasa melalui karya agung Kitab Pengetahuan Bahasa,” ujar Rodi.

Menurutnya, pembangunan monumen ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan proyek kebudayaan dan peradaban. Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai pulau sejarah dan pusat spiritual Melayu, tetapi dalam konteks kebangsaan, ia juga merupakan “Pulau Bahasa”. Tempat lahirnya konsep keindonesiaan melalui bahasa.

“Monumen Bahasa akan menjadi simbol hidup bahwa akar kebangsaan Indonesia tumbuh dari tanah Kepulauan Riau, dari rahim peradaban Melayu Penyengat,” tambahnya.

Pembangunan ini diharapkan menjadi wahana edukasi dan inspirasi lintas generasi. Tidak hanya menjadi ikon wisata sejarah, Monumen Bahasa akan dirancang sebagai pusat pembelajaran bahasa, literasi, dan budaya.

Di dalamnya akan dibangun ruang interaktif yang menampilkan sejarah perkembangan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, peran tokoh-tokoh Penyengat, hingga kontribusi Kepulauan Riau terhadap lahirnya semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda 1928.

“Monumen Bahasa juga akan disiapkan sebagai museum sejarah yang salah satunya terdapat studio mini terkait Kesultanan Melayu Riau-Lingga khususnya yang berkaitan dengan Pulau Penyengat. Sehingga anak-anak sekolah, peneliti, dan wisatawan mendapatkan informasi yang utuh terhadap sejarah Pulau Penyengat” ucapnya.

Rodi menambahkan, pembangunan monumen ini juga selaras dengan visi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk memperkuat cultural heritage dan menjadikan Kepri sebagai pusat peradaban Melayu dunia.

Dari sisi tata ruang, lokasi Pulau Penyengat memiliki makna simbolik dan strategis. Pulau kecil di jantung Tanjungpinang ini menyimpan jejak sejarah Kesultanan Riau-Lingga dan menjadi mercusuar kebudayaan Melayu. Karena itu, desain Monumen Bahasa direncanakan menggabungkan unsur arsitektur Melayu klasik dengan pendekatan modern, agar mampu memvisualisasikan jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan.

Rodi menegaskan pihaknya tengah menyiapkan perencanaan teknis yang matang, dengan pendekatan konservatif terhadap nilai sejarah dan lingkungan Pulau Penyengat. “Kami tidak ingin monumen ini sekadar menjadi bangunan besar tanpa makna. Ia harus hidup, bernapas, dan menjadi ruang bagi publik untuk memahami perjalanan bahasa, budaya, dan bangsa,” tegasnya.

Lebih jauh, Monumen Bahasa diharapkan dapat mengangkat kembali kejayaan Pulau Penyengat di pentas nasional dan internasional. Dengan penataan yang terintegrasi, monumen ini akan menjadi magnet baru bagi wisata budaya dan pendidikan, sekaligus memperkuat citra Tanjungpinang sebagai Kota Pusaka Bahasa Indonesia.

“Bahasa adalah jati diri bangsa. Melalui Monumen Bahasa, kita tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga menegaskan eksistensi Kepulauan Riau sebagai daerah yang memberi kontribusi fundamental terhadap berdirinya Indonesia modern,” pungkas Rodi Yantari

Dengan demikian, Monumen Bahasa bukan sekadar tugu peringatan, melainkan pernyataan tentang siapa kita sebagai bangsa. Dari Pulau Penyengat yang merupakan tanah kelahiran bahasa persatuan, semangat kebangsaan itu kembali disemai. Agar generasi mendatang tidak hanya fasih berbahasa, tetapi juga memahami akar sejarah dan makna yang menyatukan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *