Pasien Tewas Usai Lompat dari Lantai 4 RSUD M Sani Karimun, Bupati Iskandarsyah: Pasang Teralis

Pasien Tewas Usai Lompat dari Lantai 4 RSUD M Sani Karimun, Bupati Iskandarsyah: Pasang Teralis.F-Nov/Radarsatu.com

KARIMUN, Radarsatu.com – Bupati Iskandarsyah telah melantik dr Dedi Abrian sebagai Direktur RSUD Muhammad Sani Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Senin 15 September 2025 siang.

Namun, pada paginya di hari yang sama, masyarakat dihebohkan dengan penemuan seorang pasian sudah tidak bernyawa disamping kiri area kawasan RSUD Muhammad Sani Karimun.

Adanya peristiwa tersebut, Bupati Iskandarsyah menegaskan kepada Dedi Abrian untuk memasang teralis disetiap jendela RSUD Muhammad Sani Karimun.

“Segera dipasang teralisnya untuk keamanan, mencegah hal-hal yang tidak diingini terjadi lagi,” pintanya.

Bupati Iskandarsyah juga meminta, kepada Dedi Abrian untuk bersinergi dengan dokter, perawat serta pegawai di lingkungan RSUD Muhammad Sani Karimun.

“Berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, melayani dengan ramah, termasuk melakukan antisipasi hal-hal tidak diingini,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, pasien laki-laki berinisial J (26) warga Baran I ditemukan tewas usai melompat dari lantai 4 RSUD Muhammad Sani Karimun.

“Benar, seorang pasien yang dirawat sejak, Jumat 12 September 2025 tewas usai lompat dari lantai 4 RSUD Muhammad Sani Karimun. Korban ditemukan oleh security dalam posisi telungkup tadi pagi sekitar pukul 05.55 WIB,” ucap Kapolsek Tebing, AKP S Kaban.

Ia menyebutkan, saat kejadian korban diketahui sendirian berada di kamar, dan tidak ada pihak keluarga yang menemani.

“Korban sendirian di kamar rawat inap RSUD. Pihak keluarga tidak ada, kebetulan malam itu kosong yang menjaga korban,” tuturnya.

AKP S Kaban menuturkan, untuk dugaan aksi nekat itu dikarenakan korban depresi akibat sakit yang dideritanya.

“Korban ngeluh susah tidur dan korban juga selalu merasa cemas,” kata Meli, adik angkat korban.

Disampaikannya, korban bekerja di kapal ikan. Saat kapalnya bersandar di
Probolinggo, Provinsi Jawa Timur korban pernah masuk rumah sakit.

“Di Probolinggo abang pernah juga dirawat di rumah sakit selama 20 hari,” kata Meli.

“Saya sempat menjenguk korban, kondisinya kayak cemas gitu. korban ada berpesan, tolong jagain ibu,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *