Indeks

Air Tak Mengalir, Warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah Mengadu ke Wali Kota Batam

Warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah saat RDP ke Wali Kota Batam, Amsakar Achmad terkait persoalan air bersih di Kantor DPRD Batam, Senin, 8 September 2025.F-Istimewa

BATAM, Radarsatu.com – Warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah kembali menyuarakan keluhan terkait pelayanan air bersih yang tak kunjung normal. Mereka menyampaikan aspirasi langsung kepada Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Batam, pada Senin (8/9/2025).

Amsakar mengatakan, pertemuan tersebut merupakan kali ketiga digelar untuk membahas distribusi air bersih di dua wilayah itu. Dalam kesempatan ini, ia turut menghadirkan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, manajemen PT Moya, hingga Direktur Pasling, agar warga bisa menyampaikan langsung harapan mereka.

“Substansinya satu, warga merasa pelayanan air bersih belum sesuai harapan. Ini sudah RDP ketiga, tapi harapan masyarakat masih jalan di tempat. Saya tegaskan, persoalan air ini bagian dari visi-misi saya dan saya berkomitmen untuk menyelesaikannya,” ujar Amsakar, usai RDP

Namun, Amsakar mengakui perbaikan distribusi air membutuhkan pekerjaan teknis dan dukungan pembiayaan. Apalagi, masa kepemimpinannya baru enam bulan berjalan.

“Saya mohon maaf belum bisa memberi pelayanan yang baik. Tapi saya pastikan ini komitmen kami sejak awal,” tambahnya.

Sebagai solusi jangka pendek, ia memerintahkan agar distribusi air ditopang dengan tandon dan mobil tangki. Sementara solusi jangka panjang, pembangunan instalasi dan jaringan diperkirakan baru dapat terealisasi sekitar Juni 2026.

“Saya minta Deputi dan direktur teknis segera koordinasi untuk memastikan langkah jangka pendek, yakni tandon dan tangki. Untuk jangka panjang, coba dibahas kembali estimasi penyelesaian pada Juni 2026. Lebih baik kita bicara apa adanya dengan warga daripada memberi janji manis tapi tak selesai-selesai,” tegasnya.

Amsakar juga mengungkapkan, ada sejumlah klausul dalam perjanjian kerja sama dengan PT Moya yang membuat pengelolaan tidak bisa langsung diambil alih BP Batam. Hal ini menjadi salah satu hambatan yang perlu ditinjau ulang agar pelayanan lebih dinamis.

“Kalau klausul yang ada sekarang tidak fleksibel, pelayanan akan tersendat. Makanya kami ingin lakukan koreksi, termasuk meninjau perjanjian kerja sama yang ada,” jelasnya.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti instruksi wali kota. Ia meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami warga Batu Merah dan Tanjung Sengkuang.

“Kami akan turun langsung ke lapangan dalam waktu dekat. Upaya jangka pendek adalah penambahan tandon dan mobil tangki di kedua wilayah itu. Saya sudah minta PT Moya menambah armada tangki untuk distribusi air,” kata Ariastuty.

Sementara untuk jangka panjang, BP Batam menunggu persetujuan DPR RI terkait sejumlah proyek teknis, seperti pembangunan booster, valve, dan jaringan distribusi baru.

“Estimasi kami, penyelesaian menyeluruh baru bisa terealisasi pada Juni 2026, dengan catatan anggarannya disetujui DPR RI,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, warga juga menyampaikan keluhannya. Ulil, perwakilan warga Tanjung Sengkuang, meminta distribusi air tandon dilakukan secara terjadwal, bukan hanya jika ada permintaan.

“Jangan nunggu kami hubungi baru air tandon datang. Harus ada jadwal tetap, supaya sekolah, puskesmas, dan warga tidak terkendala. Kalau harus telepon dulu, ribuan anak sekolah dan ratusan pasien puskesmas bisa terganggu,” tegas Ulil.

Warga berharap pemerintah dan BP Batam segera menemukan solusi permanen, mengingat krisis air bersih telah berlangsung berbulan-bulan dan berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat.

Exit mobile version