Kedai Kopi Tu Dibina Bukan Dibinasakan

Buana Fauzi Februari. (Foto: istimewa).

Oleh: Buana Fauzi Februari

 

TANJUNGPINANG, RADARSATU.COM – Banyak hal bisa dilakukan di atas meja, mulai dari sekadar makan sampai pada perundingan mentukan nasib suatu bangsa, ya apapun itu dapat diselesaikan dengan duduk di meja, apalagi di sesi pembahasan menuju penetapan APBN dan APBD seperti sekarang ini, praktek bawah meja yang kerennya disebut under table sulit dilacak.

Pemandangan yang lazim terlihat di lingkungan kota kecilku Tanjungpinang, adalah banyaknya orang-orang yang memenuhi suatu tempat bernama umum kedai kopi.

Kedai kopi di Tanjungpinang hampir merata ada di sudut-sudut kota, dampak dari kedai kopi dapat menghidupi denyut ekonomi kemasyarakatan, sektor UMKM khususnya pedagang makanan ikut terdongkrak, sedang dari sisi penyerapan tenaga kerja tak diragukan lagi sangat membantu mengurangi jumlah pengangguran, walaupun upah pekerja kedai kopi masih banyak yang dibayar dibawah ketentuan upah minimum, jangan sampai pulak TKA pun merambah di sektor ini, matilah kita.

Di kedai kopi, dapat dipastikan menu utamanya tentulah secangkir kopi panas dengan citarasa dan racikan berbeda tiap kedai, ada yang hanya mengandalkan kopi bubuk kemasan namun lebih banyak yang kreatif meracik kopi dari penggilingan manual pemecah biji kopi lokal yang ada di Pulau Bintan, pulau yang menaungi 3 Pemerintah Daerah, yakni Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.

Baca Juga :  Tiga Paslon Bupati-Wakil Bupati Lingga Sampaikan Visi-Misi di Gedung DPRD

Jadi sebagai anak jati Kepri kita mesti bangga, sebab kedai kopi menjadi kekhasan daerah kita, kamu boleh telusuri daerah lain di Indonesia, tak akan kamu temui banyaknya kedai kopi seperti di tempat kita, sejumlah diksi keren juga lahir dari kedai kopi, buat yang baru pijakkan kakinya di bumi Segantang Lada ini pasti bingung, ada menu Teh Obeng, Kopi O, Kopi Guni, Kopi Pancung, Es Kosong, menu makannya ada Mie Lendir, Mie Miskin, Asma Rojak, Nasi Dagang, Nasi Lemak, Mie Siam, semua benda ni buat telak kami orang Kepri sangatlah sedap, tak caye sudah.

Tapi sayang seribu sayang, para pimpinan daerah di Kepri banyak tak menyadari peran dan eksistensi Kedai Kopi bagi menggerakkan roda perekonomian daerah, mereka justru membuat para pelaku usaha kedai kopi kecewa karena ASN dan Non ASN sering di razia kala sedang beraktifitas di Kedai Kopi.

Baca Juga :  Mitra Binaan PT Timah Tbk Pasarkan Produk Sayuran Hingga ke Riau

Fasilitas Kedai Kopi seperti WiFi dan sarana prasarana kerja lebih representatif untuk bekerja secara online dalam jaringan (Daring) dan pilihan menu yang ada membuat kegiatan tatap muka juga jadi lebih mencair.

Wahai pimpinan daerah yang terhormat, jangan dikira kami yang duduk di Kedai Kopi ni tak berguna, banyak persoalan selesai dengan silahturahmi dan pertemuan sambil ngopi, untuk pelayanan masyarakat juga lebih etis dan tidak kaku bila dilakukan di kedai kopi semisal Lurah yang memediasi warganya yang bersengketa tanah, karena perlu diingat tak semua orang senang dan mau berurusan ke kantor, apalagi kalau letak kantor yang jauh dan keadaan kantor yang semrawut, ditambah kurang ramahnya para staf kantor pemerintah kepada para pengunjung di kantornya, mereka paling alergi dengan LSM dan media, kenapa?, tanya aja sendiri.

Ke kantor pun para ASN dan Non ASN belum tentu mereka kerja, ada yang sampai kantor, nyalakan AC, WiFi dan putar Drama Korea atau nonton aplikasi medsos lainnya, ada juga yang langsung pulang begitu selesai absen aplikasi.

Baca Juga :  PLN Tanjungpinang Lakukan Pemadaman Bergilir, Berikut Jadwal dan Lokasinya

Rata rata mereka tak tahu apa yang harus dikerjakan, kalau pejabat Kasi, Kasubag, Kabid, Kabag, Sekdis sampai Kepala OPD jangan ditanya, pada sibuk Dinas Luar dan Dalam, SPPD sekadar formalitas, alasan konsultasi dan studi banding, padahal nak lihat anak yang lagi sekolah, ke Tanah Cang atau Thamcit untuk belanja bagi sosialita Pemda, peluang selingkuh juga terbuka lebar, jauh dari Istri atau Suami gitu loh.

Sudah jadi rahasia umum, SPPD itu asal lembarannya sudah berstempel dan tiket serta boardingpass terkumpul, jadi duit sudah, lantas bila mau diperbandingkan, mana yang lebih layak dibinasakan?, yang duduk di Kedai Kopi dengan biaya sendiri dan tetap ada yang dikerjakan baik secara daring atau tatap muka, dengan mereka mereka yang gunakan fasilitas kantor untuk hiburan dan kepentingan pribadi?, ayo kawan-kawan Kedai Kopi, mana suaramu?…

Penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.