Sani Ayah Kita, Herry Abang Kita

Buana Fauzi Februari. (Foto: istimewa).

Oleh : Buana Fauzi Februari

 

TANJUNGPINANG, RADARSATU.COM – Kehilangan, ya kata itulah yang pantas mewakili segenap perasaan ini, ketika kabar wafatnya Gubernur Kepulauan Riau, H.M. Sani pada Jumat, tanggal 8 April 2016, membahana ke sanubari kami para pecinta Sang Ayah.

Mendiang HM. Sani lebih akrab disapa dengan sebutan Ayah, pria kelahiran 11 Mei 1942 itu memang dikenal sangat dekat dengan masyarakat yang dipimpinnya , sejak menjadi Bupati Karimun sampai menjabat Gubernur Kepulauan Riau di akhir hidupnya sosok Ayah Sani belum tergantikan.

Saya bisa banyak bicara dengan Ayah karena kami sama-sama jemaah subuh Masjid Ash-Shobirin yang berlokasi di jalan Cempedak, Tanjungpinang, persis di depan kediaman pribadi beliau, sedang posisi rumah saya tak sejauh jarak antara Saguling dengan Duren III, jadi boleh dibilang kami hidup berjiran dan saya sudah menganggap almarhum seperti ayah saya sendiri.

Ayah Sani bagi saya adalah figur pemimpin aspiratif, saya masih ingat pesan beliau saat menutup kegiatan Kepramukaan di Bumi Perkemahan Hutan Lindung, beliau berpesan kepada saya selaku Ketua regu agar selalu memperhatikan kondisi anggota dan menjaga kekompakan regu, ironinya saat ini organisasi Kepramukaan di Kepri malah seperti partai politik yang jabatannya diperebutkan.

Baca Juga :  Kasus APBDes Desa Matak TA 2019 Naik Tahap II

Karir Ayah Sani di birokrasi terbilang sangat panjang dan komplit, dari pembuat amplop surat dinas hingga menjadi orang nomor satu di Kepri dalam Jabatan Gubernur. Tersebab nasib beliau yang dianggap tak pernah terlalu tenggelam ke bawah dan selalu beruntung, maka julukan “untung sabut” melekat pada Ayah,kalau pejabat yang ada sekarang “Tempurung semua.

Saya pernah diangkat sebagai Tenaga Ahli Gubernur Kepri dari tahun 2011 hingga 2014, yang kalau sekarang dipanggilnya Staf Khusus, Ayah jugalah yang merekomendasikan saya ikut pendidikan Lemhannas selama 7,5 bulan di Jakarta.

Ketokohan dan kepemimpinan Ayah akan terus menjadi pedoman saya dalam berkarir dan berkeluarga, ketika Ayah menjabat Bupati Karimun kemudian terpilih menjadi Wakil Gubernur sampai akhirnya menjadi Gubernur, tidak ada ambisi dan intervensi Ayah memaksakan adik atau anaknya menduduki jabatan basah apalagi sampai mendudukkan mereka sebagai Bupati atau Walikota meskipun hal itu dimungkinkan dengan jabatan dan kewenangan yang beliau miliki.

Baca Juga :  Polres Karimun Terima Kunjungan Tim Asistensi Penilaian Pelayanan Publik

Sekarang setelah Ayah tiada, Kepri masih membutuhkan seorang pemimpin bukan pemimpi, pemimpin yang sepenuhnya berdinas bukan berdinasty, mengurus bukan menguras kekayaan daerah, berdayakan bukan perdayakan masyarakat yang dipimpinnya.

Menyongsong perhelatan demokrasi di 2024 nanti, mulai muncul para calon yang mendadak baik, secara lahir maupun bathin, bila tak cermat memilah bakal merugi karena salah memilih.

Teringat Ayah, saya pun lantas teringat bang Herry Andrianto, Abang yang satu ini tak lain adalah putra Ayah, menduduki jabatan eselon II.a di Pemprov Kepri tak membuat Bang Herry tinggi hati, orangnya santai dan mudah akrab dengan siapa saja yang baru dikenalnya, dapat disebut Bang Herry ini tipikal pmimpin yang bersahaja.

Baca Juga :  Perayaan Idul Adha, Lanal TBK Kurban 4 Ekor Lembu dan 5 Ekor Kambing

Selama saya kenal Bang Herry, tak pernah sekalipun dia mengaku anak Bupati atau anak Gubernur, dia paling tak suka dipanggil namanya Herry Sani, bukan karena tak bangga sebagai anak Ayah Sani namun lebih karena tak mau memanfaatkan jabatan Ayah untuk kepentingan pribadi.

Jangan berharap Bang Herry akan mendeklarasikan dirinya maju sebagai calon Kepala Daerah, disinggung soal kemampuan jangan ditanya, tapi seperti yang saya katakan Abang kita ini bukan anak Gubernur yang kaleng- kaleng, kalau mau dibandingkan Apple to Apple dengan anak Gubernur lain ya jauhlah, Bang Herry ini birokrat murni yang ditempa dengan beragam persoalan daerah dan tidak sedikit prestasi capaiannya, tanpa ekspos media, dia terus bekerja dengan satu keyakinan, Kepri bisa menjadi seperti yang Ayah azamkan. Tinggal serahkan pada masyarakat untuk menilai, layakkah Bang Herry memimpin Kepri, kalau saya sih YESS.

Penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.