Penghasilan Buruh Turun Drastis, TKBM Pelabuhan Taman Bunga Karimun Minta Kapal Ditambah

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Taman Bunga Karimun, Kepulauan Riau, Rabu (5/2/2025). (Foto: Kar)

KARIMUN, radarsatu.com – Pelabuhan bongkar muat Taman Bunga Karimun, Kepulauan Riau yang dikelola Pelindo mengalami kerusakan sepanjang 20 meter akibat tertabrak kapal barang KM Gloria pada Januari 2023.

Meski belum terlihat ada perbaikannya hingga tahun 2025, aktivitas bongkar muat masih tetap berjalan, namun tidak maksimal.

Saat ini jumlah kapal yang melakukan bongkar muat barang di pelabuhan depan rumah dinas Bupati Karimun tersebut tidak seperti dulunya.

Untuk ukuran volume kapal secara keseluruhan (GT) yang bersandar di pelabuhan itu juga lebih kecil.

Hal tersebut membuat penghasilan para buruh di pelabuhan bongkar muat tersebut turun drastis.

“Dulu mencapai Rp 3 juta per bulan, saat ini hanya Rp 700 ribu,” ungkap Budi Kuswanto, salah satu buruh, Rabu (5/2/2025).

Dikatakan pria telah memiliki 3 orang anak itu, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia juga menjadi sebagai buruh bangunan.

“Penghasilan Rp 700 ribu per bulan mana cukup, apalagi sekarang ini harga barang-barang serba mahal, jadi saya juga nguli di tempat lain,” ucapnya.

Sementara itu, Parni, Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Karimun mengungkapkan, saat ini hanya satu kapal yang bongkar muat barang di pelabuhan Taman Bunga.

“Dulu bisa sampai 6 kapal berukuran 1000 GT bahkan lebih dalam sebulan. Sekarang hanya 1 kapal, itu pun ukurannya sekitar 500 GT. Tentu ini berdampak besar pada penghasilan buruh kami. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun,” tuturnya.

Sambung Parni, bongkar muat kapal-kapal barang berukuran minimal 1000 GT saat ini dialihkan ke Pelabuhan Parit Rempak, Kecamatan Meral.

“Buruh yang tergabung di TKBM ada sekitar 90 orang. Saya minta solusi dan kebijakan dari Pemkab Karimun maupun pihak terkait. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,”

Tidak hanya buruh, sopir lori di pelabuhan bongkar muat Taman Bunga Karimun juga mengalami hal serupa.

“Ada 35 sopir lori, penghasilan mereka kini menurun mencapai 70 persen,” kata Zainal, Ketua Koperasi Petak Jaya Sejahtera Karimun sebagai penyedia lori.

Untuk itu dia mengharapkan, kapal-kapal barang lebih banyak lagi yang bongkar muat di pelabuhan Taman Bunga Karimun.

“Kami bukan untuk kaya. Kalau 3 kapal barang berukuran minimal 1000 GT saja dalam sebulan, kami tidak menjerit seperti sekarang ini,” ujar Zainal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *