Raden Hari Tjahyono Dalam Ikhtiarnya

Raden Hari Tjahyono

Raden Hari Tjahyono atau yang biasa disapa Pak Raden dalam aktivitasnya sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau Periode 2019 – 2024, merupakan kader terbaik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Provinsi Kepulauan Riau.

Pria yang dilahirkan di Semarang pada tanggal 30 Juni 1967 atau dalam hitungan beberapa bulan kedepan memasuki usia ke 55 tahun, sebelum memulai karirnya di Partai Politik, ia pernah mengabdikan diri di salah satu BUMN yaitu PT. Dirgantara Indonesia selama hampir 16 tahun yaitu sejak tahun 1987 hingga tahun 2003.

Sejak tahun 2003, Raden pun memulai karier Politiknya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua DPC PKS Batu Ampar Batam.

Setelah usai mengabdikan diri di PT. Dirgantara Indonesia, Raden Hari Tjahyono selain memulai kariernya di Partai Politik juga bekerja pada salah satu Perusahaan Industri yang ada di Batam yaitu PT. Heat Exchangers Indonesia dari tahun 2003 hingga tahun 2009.

Baca Juga :  Seorang PNS Pemko Tanjungpinang Ditangkap Polisi Akibat Narkoba

Suami dari Raden Neni Rahmadini ini, memiliki pandangan bahwa dengan bergabung di Partai Politik maka banyak hal yang dapat dilakukan bagi masyarakat. Diantara banyaknya Partai Politik yang ada, dirinya lebih tertarik bergabung di PKS yang mengedepankan jalan dakwah dalam berpolitik.

Baginya, berpolitik itu tidak semata-mata untuk meraih kekuasaan, melainkan bagaimana kita dapat berbuat sebanyak mungkin kebajikan demi kepentingan masyarakat, kemaslahatan umat serta kemajuan daerah.

Sosok yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PKS Kota Batam Periode 2004 hingga 2015 serta sebagai Ketua DPW PKS Provinsi Kepri Periode 2015 hingga 2020 ini, senantiasa selalu mengingatkan kader-kader PKS agar tetap konsisten berpolitik sesuai konstitusi negara dengan tujuan agar terciptanya masyarakat yang sejahtera.

Menurutnya, Partai Politik hendaknya menjadi tempat dimana aspirasi masyarakat dapat ditampung dan diperjuangkan. Selain itu, merupakan wadah yang hendaknya didesain guna merumuskan ide – ide dan gagasan dalam rangka pembangunan akhlak dan pendidikan karakter masyarakat serta dalam rangka ikut serta memajukan pembangunan dalam semua sektor kehidupan.

Baca Juga :  Batam Pererat Hubungan Bilateral dengan Singapura

Sosok yang dikarunia 4 orang anak dari buah pernikahannya dengan Raden Neni Rahmadini ini, juga memiliki pandangan bahwa Partai Politik harus mampu ikut serta menciptakan iklim yang kondusif bagi kehidupan masyarakat ditengah kemajemukan bangsa.

“Negara ini dibentuk atas dasar persamaan cita-cita bangsa oleh beragamnya perbedaaan suku bangsa bahkan agama, maka yang harus dikedepankan adalah cita-cita mulia dari para pendiri bangsa bukan yang dikedepankan adalah perbedaannya,” kata Raden kala itu.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki motivasi “Semangat Berbuat Kebajikan” ini, juga tidak segan-segan memberikan kritikannya kepada Pemerintah Provinsi Kepri jika terdapat kebijakan yang tidak sejalan bahkan dianggap merugikan kepentingan masyarakat.

Dimana selama masa Pandemi COVID-19, dirinya selalu mengingatkan Pemerintah Daerah khususnya pada OPD-OPD terkait agar konsisten melaksanakan Recovery (Pemulihan) Ekonomi akibat Pandemi COVID-19. Hal ini karena akibat Pandemi COVID-19 tersebut, telah menyebabkan semakin meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di Provinsi Kepri. Oleh karenanya, Program yang dilaksanakan harus sejalan atau memiliki dampak terhadap permasalahan yang terjadi.

Baca Juga :  Telkom dan Telkomsel Diminta Gratiskan Kuota Internet Belajar Daring

Raden Hari Tjahyono yang juga merupakan Wakil Ketua Badan Anggaran DPRD Provinsi Kepri ini, juga selalu mengingatkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi Kepri bahkan pada semua OPD, agar dengan keterbatasan anggaran pada APBD Provinsi Kepri dapat lebih dioptimalkan pada Belanja Daerah yang menyentuh pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Pemerintah Daerah diharapkannya agar dapat meminimalisir Belanja Daerah yang kurang atau bahkan tidak efektive apalagi hanya bersifat ceremonial. Sebab menurutnya tujuan pembangunan itu adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata, sehingga jika pembangunan yang dilaksanakan tidak sejalan dengan orientasi tersebut, tentu pembangunan yang dilaksanakan merupakan kesia-siaan belaka. ( Akok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.